Kenapa setting server lebih mudah pakai CLI?

Kali ini saya cuma share pengalaman dan opini saja. Mungkin bagi yang mengikuti blog ini dari awal tahu saya awalnya pakai OpenLiteSpeed untuk belajar, tapi mulai akhir Desember ini saya sudah menggantinya dengan Nginx. Ini bukan karena ada rencana tapi ada sedikit masalah yang saya sendiri agak malas menguji coba solusinya. Lebih capek dan menghabiskan waktu memperbaiki lewat panel daripada pakai CLI (Command Line Interface) atau basis teks dari pengalaman ini.

Read more

Biasakan tes dulu konfigurasi Nginx sebelum diterapkan

Ada satu kebiasaan yang “terpaksa” saya kuasai dalam perjalanan belajar setting VPS, terutama untuk Nginx. Dulu awalnya setiap ketemu potongan kode yang katanya terbaik untuk performa Nginx (apapun itu, walaupun saya juga ga ngerti) langsung saya coba di live server. Jadi ya memang ada websitenya dan aktif, pikiran saya kodenya pasti aman karena yang ngeshare sudah ahli dan tahu darimana kalau sukses apabila tidak ada situs yang diujicoba? Ya… kesalahan besar, bikin begadang iya. 😀

Read more

Membuat Nginx FastCGI Cache mengabaikan query string

Ini melanjutkan tutorial lama saya soal Nginx FastCGI Cache yang bisa sangat meringankan beban kerja VPS dan mempercepat akses websitenya juga. Secara keseluruhan kerjanya bagus tapi agak rewel dalam urusan cookie dan sesi pengunjung, sering tidak dikenali jadi susah buat login atau logout akun apabila ada. Tapi kalau konten anda bersifat statis dan tidak berharap adanya interaksi pengunjung selain membaca maka ini solusi yang pas.

Read more

Menambahkan header Vary: Accept-Encoding pada Nginx

Untuk konten statis yang sangat bagus dikompresikan seperti file CSS dan JS akan sangat disarankan agar ditambahkan header Vary: Accept-Encoding supaya browser yang mendukung akan dikirimkan file yang terkompresi apabila mendukungnya. Intinya untuk menghemat data dan mempercepat transfernya bila perambannya bisa membaca isinya. Kalau tidak yang akan diberi versi aslinya tanpa dikecilkan.

Read more